Showing posts with label 3.6.3. Peristiwa 27 Juli 1996. Show all posts
Showing posts with label 3.6.3. Peristiwa 27 Juli 1996. Show all posts
Teka-teki Peristiwa 27 Juli

Teka-teki Peristiwa 27 Juli

June 15, 2014 Add Comment

Teka-teki Peristiwa 27 Juli

indosiar.com, Jakarta - Kasus penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, 27 Juli 1996 sampai saat ini belum tuntas penyelesaiannya. Saat Megawati menjabat presiden banyak yang optimis, kasus 27 Juli akan segera terselesaikan.

Tanggal 27 Juli tahun 1996 lalu terjadi penyerbuan terhadap kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, No. 58, Jakarta Pusat. Penyerbuan itu sulit dilupakan dari sisi kemanusian, karena meninggalkan korban jiwa dan harta yang besar. Korban tewas tercatat 5 orang, 149 luka-luka, sementara 23 orang dinyatakan hilang.

Tahun 2001, ketika Megawati Soekarnoputri yang dianggap sebagai korban peristiwa 27 Juli menjadi Presiden Republik Indonesia, masyarakat optimis kasus 27 Juli segera terbongkar secara tuntas, dan otak pelaku dijatuhi hukuman yang setimpal. Namun peristiwa itu tetap diselimuti misteri.
Berjalannya waktu menyulitkan aparat penegak hukum menghadirkan pelaku serta memperoleh barang bukti ke Pengadilan. Pengadilan Jakarta Pusat tahun 2003 lalu telah memulai persidangan 4 terdakwa di majukan ke meja hijau. Namun mereka hanyalah pelaku di lapangan.

Keempatnya yaitu Kolonel Budi Purnama, mantan Komandan Detasemen Intel Kodam Jaya, Kaptem Soeharto, mantan Komandan Kompi J Detasemen Intel Kodam Jaya dan Muhaman Tandjung serta Buyung. Mereka dibebaskan hakim koneksitas, karena dianggap hanya menjalankan perintah atasan.
Meski begitu, masyarakat masih berharap pengadilan mampu menghadirkan tokoh-tokoh sentral dibalik aksi penyerbuan berdarah itu. Sejumlah nama memang sempat diperiksa dan ditahan kepolisian, seperti mantan Ketua Umum DPP PDI Suryadi, Sekjen DPP PDI Hutu Hutapea dan Yoris S.

Bahkan beberapa pejabat militer seperti mantan Prasdam Jaya, Susilo Bambang Yudhoyono, Mantan Pangdam Jaya, Sutiyoso, mantan Kasus Pol ABARI Sarwan Hamid dan mantan Panglima ABRI Faizal Tandjung, diyakini mengetahui pokok permasalahan kasus tersebut.

Tahun 2004 ini, kasus penyerbuan kantor DPP PDI, 27 Juli 1996 kembali dibuka. Namun nuansa penegakan hukum atas kasus yang menewaskan 5 orang dan melukai ratusan lainnya hilang. Tertutup nuansa politik kampanye beberapa orang yang diduga terkait dengan peristiwa Sabtu kelabu itu. (Tim Liputan/Sup)


Sumber:
http://www.indosiar.com/fokus/teka-teki-peristiwa-27-juli_27849.html
Tragedi 27 Juli, Bang Yos Ikut Rapat Rahasia di Cendana

Tragedi 27 Juli, Bang Yos Ikut Rapat Rahasia di Cendana

June 15, 2014 Add Comment
Pada saat penyerbuan berlangsung, terlihat orang yang sangat mirip Pangdam Jaya Mayjen Sutiyoso memberikan instruksi di lapangan.

Tragedi 27 Juli, Bang Yos Ikut Rapat Rahasia di Cendana

Pangdam Jaya Sutiyoso diminta membantu PDI Suryadi untuk memfungsikan kantornya di Jalan Diponegoro, yang saat itu dikuasai kubu Megawati.
Selasa , 26 Jul 2011 18:42 WIB
  
 
Jakarta - Mantan Pangdam Jaya yang juga bekas Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, ternyata memiliki andil dalam peristiwa 27 Juli 1996.

Sutiyoso atau akrab disapa Bang Yos yang saat itu menjabat sebagai Pangdam Jaya, ikut dalam rapat di rumah mantan Presiden Soeharto Jalan Cendana, Menteng, membahas rencana penyerbuan markas PDIP di Jalan Dipenogoro.   

Hal ini dipaparkan mantan Direktur C Badan Intelijen ABRI (BIA) 1995 Brigjen (Purn) Slamet Singgih, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (26/7).

"Rapat rahasia itu dilakukan pada 19 Juli," terangnya.

Dia memaparkan, selain mantan Presiden Soeharto, sejumlah petinggi militer mengikuti pertemuan rahasia itu, di antaranya Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung, KSAD Jenderal R Hartono, Kapolri Jenderal Dibyo Widodo, Kasum ABRI Letjen Suyono, Kassospol ABRI Letjen Syarwan Hamid, dan Pangkostrad Letjen TNI, Wiranto, Pangdam Jaya Mayjen Sutiyoso dan Kapolda Metro Jaya, Mayjen Hamaminata.

Dalam rapat rahasia tersebut, lanjut Slamet Singgih, mantan Presiden Soeharto secara  implisit meminta semua pihak mengatasi situasi di Jakarta dan membantu PDI Suryadi berdasarkan asas legalitas.

Secara ekplisit, Pangdam Jaya Sutiyoso diminta membantu PDI Suryadi untuk memfungsikan kantornya di Jalan Diponegoro, yang saat itu dikuasai kubu Megawati.

Slamet Singgih yang biasa disapa SS ini menjelaskan, sebenarnya inti dari rapat tersebut adalah menyingkirkan Megawati. "Saya pernah mendapat 'tugas' untuk itu, tapi saya tidak setuju kalau cara-caranya tidak fair. Kalau 'membonsai' untuk menghambat pengaruh Megawati, saya setuju," tegas SS.

Dia melanjutkan, setelah pertemuan rahasia itu selesai, Pangkostrad berbicara dengan Pangdam Jaya menjauh dari ruang pertemuan utama. Pangkostrad terdengar mengatakan ke Pangdam Jaya, "Yos, jangan lama-lama lagi, nunggu apa lagi kamu?" tutur SS yang meniru ucapan Wiranto ketika itu.

Pada saat penyerbuan berlangsung, katanya, jelas terlihat orang yang sangat mirip Pangdam Jaya Mayjen Sutiyoso memberikan semacam instruksi di lapangan.

SS menyayangkan pengusutan pengungkapan peristiwa 27 Juli 1996 berhenti sampai Sutiyoso. "Saya membuka pertemuan rahasia itu agar semua fakta bisa diungkap dan para jenderal dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujarnya. (zhank's)  



Sumber:
http://skalanews.com/news/detail/94980/2/-tragedi-27-juli--bang-yos-ikut-rapat-rahasia-di-cendana-.html

Megawati dan Jokowi

June 15, 2014 Add Comment

Megawati dan Jokowi

Sebelum tahun 1986, belum banyak yang mengenal sosok Megawati. Adalah Suryadi (Ketua Umum PDI kala itu) yang mengajak Megawati terjun ke dunia politik. Di awal karirnya bersama PDI, wanita dengan nama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri ini di percaya sebagai wakil ketua DPC PDI Jakarta Pusat. Sejak itulah nama Megawati mulai di kenal publik.
Oleh banyak kalangan, Megawati di kenal sebagai sosok politisi yang tidak banyak bicara, tidak suka beretorika dan terkesan sangat hati hati dalam menyikapi situasi politik. Itu kenapa banyak yang menduga bahwa wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi UI walau tidak sampai selesai ini sebagai pribadi yang tidak cakap dalam berpolitik. Bergabungnya Megawati ke PDI di anggap hanya sebagai pendongkrak suara saja mengingat sejak awal fusi suara PDI terus menerus berada di posisi buncit.
Entah ada korelasinya atau tidak, semenjak Megawati bergabung bersama PDI, partai bernomor urut 3 ini mengalami kemajuan dari pemilu ke pemilu. Jika pada pemilu 1982 PDI hanya meraih suara 7,88% dan berada di urutan terakhir di bawah PPP dan Golkar, di pemilu 1987 suara PDI meningkat menjadi 10,93%. Pada pemilu 1992 suara PDI kembali meningkat dengan perolehan suara 14,89%.
Seiring dengan meroketnya prestasi PDI di panggung perpolitikan tanah air, karir politik Megawatipun perlahan mulai terkatrol. Pada KLB PDI tahun 1993 di Surabaya, Megawati terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum PDI.
Naiknya Megawati sebagai Ketua Umum PDI yang sebenarnya sudah di prediksi sejak manakala namanya santer di sebut di Kongres Medan tak pelak memicu ketakutan tersendiri bagi lawan politiknya terutama rezim orde baru. Setidaknya kejadian ini boleh di bilang melawan pakem. Di mana setiap suksesi di tubuh partai politik kala itu tak pernah luput dari intervensi pemerintah. Naiknya Megawati di anggap sebagai sebuah perlawanan arus bawah yang tidak mau tunduk terhadap keinginan penguasa. Di sisi lain fenomena Megawati juga memicu kekhawatiran akan bangkitnya kembali Soekarnoisme yang sekian lama berhasil di bungkam orde baru.
Bagi Orde Baru, Megawati tak ubahnya ancaman nyata yang harus segera di sikapi dengan tegas. Prestasi PDI yang terus menerus mengalami peningkatan dukungan dari rakyat dari pemilu ke pemilu adalah sinyal bahwa partai ini memiliki potensi besar menghancurkan hegemoni Orde Baru melalui sayap politiknya yang sering kita kenal ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar).
Ketakutan orde baru ini sepertinya cukup beralasan. Misalnya, semenjak Megawati memimpin, setidaknya PDI mulai menunjukkan diri sebagai partai yang 'banyak' mencari masalah. Ahmad Bahar dalam buku kecilnya 'Biografi Politik Megawati Soekarnoputri' mengungkapkan setidaknya ada 7 dosa politik Megawati.
Pertama, Megawati di anggap sebagai biang keladi bangkitnya Soekarnoisme. Kedua, Megawati dianggap telah melakukan pembiaran manakala orang orang di sekelilingnya bersuara vokal dengan mempermasalahkan isu isu sensitif seperti dwifungsi ABRI, pencalonan presiden lebih dari satu dan lain sebagainya. Ketiga, Megawati di anggap tidak tanggap terhadap suara suara anti kemapanan yang terus menerus melakukan kritik terhadap orde baru. Bahkan Megawati justru seolah sengaja membiarkan diri di simbolkan sebagai ikon perlawanan. Keempat, Megawati di anggap mulai berani mengungkapkan suara yang berbeda dengan rezim dalam berbagai isu dan seolah menempatkan diri dan partainya sebagai kekuatan oposisi. Sesuatu yang sebenarnya tidak lazim di jaman orde baru.
Kelima, Megawati dianggap gagal memimpin PDI. Itu terbukti dari tidak pernah selesainya konflik dualisme yang melanda PDI di daerah daerah. Selain itu Megawati di anggap gagal menyelesaikan struktur kepengurusan partai di tingkat MPP (Majelis Permusyawaratan Partai) dan Deperpu (Dewan Pertimbangan Pusat). Sesuatu yang jika sampai 1997 tidak bisa di bentuk, akan menimbulkan bahaya.
Keenam, Megawati dianggap sebagai pemimpin yang kurang akomodatif. Itu terbukti dari gaya otoriter Megawati yang sering mencopot dan memecat kader kader partai yang berseberangan. Terakhir, Megawati di anggap lebih mempercayai orang orang di sekitarnya dan cenderung mengabaikan suara suara yang berasal dari lingkaran partainya.
Alasan alasan inilah yang kemudian memancing lawan politiknya baik yang ada di lingkaran partai maupun di luar untuk segera mengambil langkah untuk menghentikan Megawati. Puncaknya adalah Kongres Medan tahun 1996. Sekelompok pengurus PDI yang berseberangan dengan Megawati dengan di dukung penuh rezim menggelar kongres luar biasa. Kongres yang tidak pernah di akui oleh kubu Megawati ini mengukuhkan Suryadi sebagai Ketua Umum PDI dan melenyapkan Megawati dari struktur PDI. Alhasil PDI terbelah menjadi dua kubu. Kubu Suryadi yang di dukung pemerintah dan kubu Megawati.
Hampir mirip dengan PKB 2009 di mana PKB Muhaimin di akui pemerintah dan menyingkirkan PKB kubu Gus Dur, pada proses tahapan pemilu 1997 pemerintah orde baru lebih mengakomodir PDI versi Suryadi dan mengabaikan PDI pimpinan Megawati.
Hasil pemilu paska tersingkirnya tokoh tokoh yang lebih populer di mata rakyatpun kurang lebih sama. Jika PKB pada 2009 mengalami penurunan suara yang cukup signifikan, maka PDI pada pemilu 1997 juga mengalami bencana politik. Hanya mampu meraup suara 3% setelah pemilu sebelumnya sukses meraih hampir 15% suara. Situasi ini membuktikan bahwa secara politik, pengaruh Megawati jauh lebih kuat di banding kubu rivalnya di seberang. Di sisi lain ini juga sinyal bagi rezim bahwa rakyat tidak bisa di intervensi oleh penguasa.
Pasca pemilu 1997, situasi politik bukan bertambah baik, tapi makin tak menentu. Rakyat yang tidak puas dengan tingkah polah rezim terutama pasca kejadian memilukan di depan kantor PDI jalan Diponegoro tahun 1996 (kudatuli) terus melakukan perlawanan. Megawati bersama tokoh tokoh masyarakat seperti Gus Dur, Sultan HB X, Amien Rais dan elemen elemen pro demokrasi lain terus menggalang kekuatan. Puncaknya pada 1998, pemerintah orde baru yang di pimpin Soeharto tumbang oleh kekuatan rakyat.
Setelah reformasi, Megawati kemudian merubah nama PDI menjadi PDI Perjuangan. Partai berlogo moncong putih ini keluar sebagai juara pemilu 1999 dengan torehan suara 33% lebih. Sayang, walaupun partainya menang pemilu, Megawati gagal terpilih sebagai presiden setelah kalah dari Abdurrahman Wahid yang berasal dari PKB.
MEGAWATI ORGANISATORIS ULUNG
Pepatah bilang, orang kuat adalah ia yang mampu bertahan di berbagai situasi. Megawati membuktikan diri sebagai salah satu tokoh yang memiliki daya tahan dan daya juang luar biasa. Memimpin sebuah organisasi politik dalam tempo lama dan dengan prestasi stabil tentu bukan sesuatu yang mudah. Betapa banyak pemimpin yang sebenarnya memiliki visi besar, akan tetapi di kemudian hari terhempas oleh ketatnya kompetisi demokrasi yang terkadang kejam.
Megawati telah membuktikan diri sebagai politisi yang tidak saja liat dalam menghadapi tekanan di masa orde baru, akan tetapi juga survive di era reformasi. Prestasi partai yang di pimpinnya juga tidak kalah menarik. Kendati tidak selalu menjuarai pemilu, akan tetapi PDI Perjuangan secara konsisten sanggup berada di posisi tiga besar dalam setiap kompetisi. Bahkan kalau kita menilai dari dimensi lain, PDI Perjuangan harus kita akui sebagai partai yang paling banyak memenangkan ajang pilkada. Baik di tingkat provinsi maupun kabupaten kota.
Ini tentu tak terlepas dari peranan Megawati dalam merekrut, mendidik dan memilih kader dan menempatkan kader kadernya. Mesin politik PDI Perjuangan oleh berbagai lembaga survey dan juga fakta di lapangan menunjukkan diri sebagai mesin politik paling efektif. Tengoklah bagaimana kinerja PDI Perjuangan di pilkada DKI, Jateng dan lain sebagainya. Suara calon yang di usung PDI Perjuangan seringkali lebih besar dari modal suaranya di parlemen. Bahkan kendati tidak sampai menang sekalipun. Kita bisa melihatnya di ajang ajang pilkada misalnya di Sumut, Jabar, Bali dan seterusnya.
Yang menarik bagi penulis adalah sistem yang hendak di bangun PDI Perjuangan dalam rangka penguatan peranan partai politik. Dalam mengajukan kandidat misalnya, PDI Perjuangan senantiasa berpegang pada prinsip 'kalau bisa mengusung sendiri, kenapa harus terlibat transaksi politik yang bertele tele dan berbiaya mahal ?'. Semangat kemandirian ini yang kami kira jarang di miliki partai lain. Sebagian besar partai politik seringkali terjebak pada pola transaksional. Cenderung hanya mencari kemenangan tanpa berfikir bagaimana mengolah potensi kader yang di miliki. Padahal seperti kita tahu, tugas partai politik adalah mengkader calon calon pemimpin bangsa. Jika partai politiknya saja susah untuk mandiri, apa jadinya jika mereka di percaya menahkodai negara ini.
JOKOWI BUAH TANGAN MEGAWATI
Publik boleh terkagum kagum dengan gaya kepemimpinan gubernur DKI, Jokowi. Dengan caranya menyelesaikan permasalahan di Jakarta. Dan dengan penampilannya yang sederhana dan merakyat. Akan tetapi semoga saja publik tidak lupa bahwa di balik itu semua, ada tangan lain yang membuat Jokowi bernilai positif di mata rakyat.
Politik itu kombinasi antara kemampuan dan kesempatan. Karir seorang politisi tidak bisa tidak di bentuk dari dua hal itu. Sebelum menjadi walikota Solo, Jokowi bukan siapa siapa. Dia bahkan hanya kader biasa dan bahkan bukan figur puncak di daerahnya, Solo. PDI Perjuanganlah yang memberinya kesempatan untuk mengaktualisasikan bakatnya. Ibarat mutiara yang terpendam, PDI Perjuangan yang menggali, mengambil dan kemudian memolesnya.
Ada yang mengatakan, andai PDI Perjuangan tidak mengambilnya, partai lain yang akan mengambil. Karena mutiara tetaplah mutiara. Anggapan ini boleh jadi benar, akan tetapi tidak selamanya seperti itu. Seperti yang kami utarakan di atas, politik itu kombinasi kemampuan dan kesempatan. Pertanyaannya adalah, jika Jokowi di kader oleh partai lain, apakah ia juga akan memiliki kesempatan yang sama untuk naik ?. Belum tentu.
Sehebat hebatnya pemain sepakbola, jika ia di tangani oleh pelatih yang tidak mengerti bagaimana mengembangkan bakat pemain, maka kehebatan sang pemain hanyalah cerita kosong belaka. Begitu juga dengan figur Jokowi. Dia membutuhkan sosok pelatih yang paham bakatnya, butuh tim yang berkemampuan prima untuk mengawal langkah langkahnya. Dan tentu saja butuh tool berupa kesempatan.
Begitu juga dengan isu pencapresan Jokowi. Banyak pihak yang menggadang gadang Jokowi agar bersedia maju sebagai calon presiden RI. Bukan saja masyarakat umum, akan tetapi juga partai politik. Mereka yang punya kepentingan tidak sedikit yang memiliki hasrat untuk merekrut Jokowi. Bahkan kalau mau jujur, semua kandidat calon presiden RI akan dengan tangan terbuka menerima Jokowi kalau bersedia menjadi wakil mereka.
Namun demikian, sekali lagi ibarat pemain bintang sepakbola, seorang Kaka yang ketika di Milan bersinar terang benderang nyatanya ketika pindah ke Madrid performanya tidaklah segarang di tim lamanya. Begitu juga dengan Jokowi, dia bisa pindah haluan dengan memakai kapal lain. Tapi performanya belum tentu akan sehebat ketika ia bersama kapal lamanya.
Yang paling tahu bagaimana cara terbaik mengasah sebuah pedang sudah pasti adalah pembuatnya. Fenomena Jokowi adalah buah tangan dari Megawati beserta mesin partai yang merekomendasikannya untuk mengaktualisasikan gagasan. Jadi, kalaupun Jokowi maju sebagai capres, pintu yang paling tepat adalah melalui partainya sendiri.
Dalam mukernas PDI Perjuangan kemarin memang nama Jokowi tidak di sebut secara gamblang sebagai calon kuat presiden dari PDI Perjuangan. Akan tetapi melihat pengalaman politik Megawati yang cukup panjang, Presiden ke V RI tentu juga akan berfikir matang. Dia pernah menjadi bagian dari keinginan rakyat. Menjadi simbol perlawanan terhadap hegemoni rezim. Sudah tentu Megawati juga akan berfikir untuk tidak melawan kehendak rakyat.

 Pict : kompasiana
Penulis : Komandan Gubrak

  • Megawati dan Jokowi
  • Komandan Gubrak
  • Kamis, 26 September 2013

Sumber:
http://gubraker.blogspot.com/2013/09/megawati-dan-jokowi.html
Kasus 27 Juli, Bukan Hanya Milik PDI

Kasus 27 Juli, Bukan Hanya Milik PDI

June 15, 2014 Add Comment


Kasus 27 Juli, Bukan Hanya Milik PDI
27 Jul 2002 14:44
270702bPDI_Peringatan1.jpg
Liputan6.com, Jakarta: Tepat enam tahun silam, Kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, diserbu PDI kubu Suryadi. Pada Sabtu (27/7) pagi, PDI Perjuangan memperingatinya di halaman "kantor lama mereka". Para keluarga simpatisan dan korban Tragedi 27 Juli juga ikut meramaikan dengan melakukan long march. Dengan mengusung keranda bertuliskan "Matinya Demokrasi", mereka bergerak dari Tugu Proklamasi menuju Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI-P di Jalan Diponegoro seraya menaburkan bunga di sepanjang jalan.

Dalam orasinya, para korban menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah yang lamban menangani Kasus 27 Juli. Untuk itu, mereka mendesak pemerintah segera menyelesaikan kasus ini. Para demonstran juga menolak pencalonan Sutiyoso sebagai Gubernur Jakarta. Sebab, Sutiyoso dinilai terlibat dalam Peristiwa 27 Juli.

Acara dilanjutkan dengan tahlilan dan pembacaan doa bagi korban di dalam Kantor DPP PDI-P. Di antara ratusan simpatisan korban, tampak Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah DKI Tarmidi Suhardjo dan anggota DPR dari PDI-P Permadi. Pada kesempatan itu, Permadi mengatakan, lambatnya penyelesaian Kasus 27 Juli dikarenakan pihak kejaksaan selalu mengembalikan berkas perkara pemeriksaan dari kepolisian. Namun begitu, sejauh ini, korban tragedi berdarah itu tetap bertekad memperjuangkan penyelesaian kasus tersebut. Mereka berniat mendatangi Kejaksaan Tinggi dan Markas Besar Polri, Selasa pekan depan.

Di depan Istana Merdeka, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aksi Bersama berunjuk rasa sejak pukul 7.00 WIB. Mereka menyatakan, Kasus 27 Juli adalah momentum kekerasan negara terhadap rakyat yang masih berlangsung hingga kini. Dalam aksinya, para pengunjuk rasa menuntut pemerintah mengadili sejumlah anggota TNI/Polri yang terlibat Kasus Trisakti, Timor Timur, Aceh, Tanjungpriok, termasuk kasus penyerbuan Kantor PDI-P enam tahun silam. Selain orasi, para mahasiswa juga menggelar happening art yang menggambarkan pembunuhan massal oleh anggota TNI/Polri. Dari Istana Merdeka, para pengunjuk rasa melanjutkan aksinya di depan Markas Besar Polri, Jakarta Selatan dengan menyuarakan tuntutan yang sama.

Peringatan Tragedi 27 Juli juga digelar ratusan kader PDI-P Pajang, Surakarta, Jumat (26/7) malam. Para simpatisan partai banteng gendut ini melakukan long march dengan menempuh rute puluhan kilometer. Mereka bergerak dari Pos Koordinasi PDI-P Pajang menuju kantor Dewan Pimpinan Cabang PDI-P Surakarta sambil mengarak keranda dan pocong. Untuk mengenang para seniornya yang tewas dalam Kasus 27 Juli, para demonstran melantunkan lagu "Gugur Bunga". Sesampainya di Kantor DPC PDI-P Surakarta, mereka disambut dan diterima oleh para pengurus cabang. Kemudian, acara ditutup dengan renungan dan doa bersama. Seperti rekan-rekannya di Ibu Kota, mereka juga mendesak pemerintah menuntaskan proses hukum hingga menemukan dalang yang bertanggung jawab atas insiden 27 Juli [baca: "Matinya Demokrasi" pada Peringatan Sabtu Kelabu].

Tepat enam tahun silam, Kantor DPP PDI diserbu oleh ratusan massa PDI kubu Suryadi. Dalam peristiwa yang dikenal dengan Sabtu Kelabu itu, massa yang mengenakan kaos merah secara brutal melempari dengan batu dan membakar Kantor PDI yang dikuasai kubu Megawati Sukarnoputri. Penyerbuan pertama di pagi hari ini sempat terhenti sejenak. Kesempatan tersebut digunakan sejumlah sekolah yang berada di sekitar lokasi kejadian untuk memulangkan siswanya demi keselamatan mereka.

Sekitar pukul 09.00 WIB, penyerbuan tahap kedua dimulai. Jumlah pendukung PDI Suryadi bertambah secara bergelombang. Sementara pendukung PDI Megawati yang masih bertahan terus melawan. Anehnya, anggota kepolisian membiarkan aksi brutal ini terus berlangsung. Bahkan, polisi yang semula hanya memblokir dan mengawasi bentrokan, akhirnya ikut mendobrak pintu gerbang Kantor PDI. Kerusuhan akhirnya melebar ke sejumlah kawasan terdekat, seperti Jalan Imam Bonjol, Salemba, dan Proklamasi. Satu unit bus dan sejumlah gedung dibakar massa.

Di lain pihak, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya--waktu itu--Mayor Jenderal Polisi Hamami Nata dan Panglima Komando Daerah Militer Jaya yang saat itu dijabat Mayjen TNI Sutiyoso mengatakan, penyerbuan dan kerusuhan tersebut dipicu konflik internal tubuh PDI. "Hanya beberapa orang terluka," kata Sutiyoso, saat itu. Namun, sejumlah kalangan menilai, kerusuhan di kantor PDI adalah suatu bentuk penyerbuan yang direncanakan dengan sempurna. Keterlibatan petugas keamanan dianggap cukup lekat dalam peristiwa ini. Dari peristiwa itu, Komisi Nasional HAM mencatat, lima orang tewas yang semuanya berada di luar kantor PDI, 143 luka-luka, dan 23 lainnya dinyatakan hilang. Sebanyak 124 pendukung PDI Megawati juga ditangkap dengan tuduhan memicu kerusuhan. Berkat kasus ini pula, nama Megawati naik ke permukaan panggung politik Tanah Air.

Peristiwa 27 Juli, sejatinya memang bukan milik PDI semata, melainkan juga lembaran hitam dalam perjalanan sejarah Tanah Air. Sayangnya, hingga kini, kasus ini seakan hilang dan terlupakan tanpa kejelasan yang pasti. Ironis, memang.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV).


- See more at: http://m.liputan6.com/news/read/38632/kasus-27-juli-bukan-hanya-milik-pdi#sthash.BwWgn2s9.dpuf
Suryadi: Militer, Otak Penyerangan 27 Juli

Suryadi: Militer, Otak Penyerangan 27 Juli

June 15, 2014 Add Comment
Suryadi: Militer, Otak Penyerangan 27 Juli
Jakarta - (Astaga.com)
23 Apr 2000, 12:51 WIB


Mantan ketua umum PDI Drs. Suryadi menyatakan bahwa otak dibalik
penyerangan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996 adalah
militer. Dan, anggota DPA yang kini meringkuk di tahanan Mabes Polri itu,
meragukan bahwa akan ada penyelesaian kasus itu jika mereka tidak
diperiksa.


Pernyataan Suryadi itu, menurut Pascalis Pieter yang menjadi kuasa hukum
Suryadi, sudah disampaikan kepada tim penyidik kasus 27 Juli dari Mabes
Polri. Pascalis dihubungi Astaga.com lewat telepon, Ahad (23/4).


Menurut Pascalis, para petinggi militer yang harus bertanggung jawab adalah
mantan Pangab Jenderal Feisal Tanjung, mantan Kasospol Letjen (Pur) Syarwan
Hamid, Mantan Pangdam Jaya Letjen (Pur) Sutiyoso, mantan Dandim Jakpus Zul
Effendi, mantan Kapolri Jenderal Dibyo Widodo, mantan Kapolda Mayjen Hamami
Nata, dan mantan Kapolres Jakpus Brigjen Abu Bakar.


"Sampai pemeriksaan terakhir minggu ini, belum satu pun dari mereka yang
dimintai keterangan," katanya. Dia berpendapat, secara stuktural para
petinggi TNI dan Polri yang menjabat pada saat kejadian 27 Juli 1996 harus
bertanggung jawab.


"Tanggung jawab tersebut, misalnya, dengan bersikap tidak menghalangi
pemanggilan dan penyelidikan terhadap dirinya."

Pascalis khawatir, berkas kasus 27 Juli ini akan ditolak pengadilan bila
mereka tidak turut diperiksa. "Dalam BAP seratus lebih orang yang sudah
diperiksa Mabes Polri jelas menyebut beberapa petinggi militer tersebut.
Dan karena melibatkan sipil dan militer maka kelak harus dibentuk peradilan
koneksitas" jelas Pascalis.


Puspom yang berwenang memeriksa petinggi TNI dan Polri juga belum sekali
pun memeriksa mereka.

Oleh karena itu Tim pengacara PDI Suryadi dan TPDI yang dikomdani Petrus
Selestinus akan bergabung mendesak Puspom agar memeriksa petinggi militer
dan Polri.


"Dalam hal ini kami berada pada visi dan persepsi yang sama," jelas
Pascalis mengenai rencana itu.

Pascalis mengaku masih belum puas dangan pemeriksaan yang dilakukan Mabes
Polri sekalipun mantan Ka BIA Mayjen (Pur) Syamsir Siregar sudah mendatangi
Mabes Polri secara Proaktif.


"Intinya para petinggi militer yang saya sebut tadi harus diperiksa kalau
ingin masalah ini tuntas,"tandas Pascalis.***
Sumber:
https://groups.yahoo.com/neo/groups/gosip-politik/conversations/topics/5972 



From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id QAA27371 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 6 Jul 1996 16:03:20 -0400 (EDT)

Date: Tue, 18 Jun 1996 07:31:39 +0700

Kabar dari PIJAR edisi cepat


Kronologi Penggusuran Mega.....


1995, Ketua DPD PDI Jawa Barat yang merupakan pendukung setia Megawati,
Djajang Kurniadi, difitnah oleh Bakorstanasda Jawa barat telah terlibat G
30S. Hal ini menyebabkan ia terpaksa mundur dari jabatannya. Selain itu
suami Megawati sendiri, Taufik Kiemas, juga dituduh terlibat peristiwa G 30
S.

Februari 1996, Gerry Mbatemoy yang didukung kelompok Yusuf Merukh berencana
akan membuat Kongres Luar Biasa (KLB). Berhubung tidak mendapat dukungan
pemerintah maka tentu saja pemeberitaannya sepi-sepi saja.


Maret 1996, Rapim ABRI di Jakarta menelorkan gagasan tentang pentingnya
kongres PDI sebelum Pemilu 1997. Karena jika Megawati tetap berada di
pucuk pimpinan PDI ditakutkan akan terdapat dua calon presiden dalam SU MPR
1998. Dan ini mereka anggap berbahaya bagi kelangsungan status quo.


25 April 1996, Ketua DPC PDI Asahan, H.A. Azhari, dipanggil Komandan Kodim
Asahan. Ia diminta untuk mendukung kongres .


1 Mei 1996, Bagian Sitopu dan Suwardi (Ketua dan Sekretaris DPC Pematang
Siantar) mengalami nasib yang sama. Mereka dipanggil oleh komandan Kodim
0207 Simalungun. Dalam pertemuan itu sang komandan meminta agar DPC
Pematang Siantar ikut kongres dan membuat pernyataan dukungan terhadap
kongres paling lambat 5 Mei 1996. "Kami juga diminta berhubungan dengan
Fatimah Ahmad dan Suryadi," ujar mereka berdua.


2 Mei 1996, Bekas Ketua Umum PDI, Suryadi, diundang Kasospol ABRI Letjen.
Syarwan Hamid untuk memberitahukan bahwa Soeharto meminta Suryadi untuk
menggusur Megawati dari kursi ketua umum. Karena pemerintah khawatir jika
Mega nekat mencalonkan diri menjadi presiden pada SU MPR 1998.


Mei 1996, Kasospol ABRI Letjen. Syarwan Hamid memanggil Alex Litay (Sekjen
DPP PDI). Dalam pertemuan itu, PDI diminta agar tidak melakukan voting
dalam SU MPR 1998 nanti.


2 Juni 1996, Sekjen PDI, Alexander Litay, dipanggil oleh Kasospol ABRI
Letjen. Syarwan Hamid. Ia dibujuk mendukung kelompok Fatimah Ahmad dan
Suryadi yang berencana mengadakan kongres. "Kongres itu tidak menguntungkan
bahkan hanya me-nimbulkan perpecahan," ujar pria yang pernah diculik oleh
kelompok Yusuf Merukh ini kepada wartawan (Selasa, 11/6).


2 Juni 1996, Asisten Sosial Politik Kasospol ABRI Mayjen. Suwarno Adiwijoyo
mengundang beberapa pemim-pin redaksi media massa di Hotel Equatorial,
Jakarta Pusat. Dalam pertemuan itu Suwarno "menghimbau" pers untuk
mendukung jalannya kongres . Selain itu ia juga meminta agar tidak
menggunakan kata "Megawati Digo-yang." Hal ini untuk menghindari kesan
kongres direkayasa pemerintah.


4 Juni 1996, Fatimah Ahmad, salah satu ketua PDI yang membelot, membentuk
 panitya Kongres untuk menjungkalkan Megawati Soekarnoputri dari kursi
ketua umum.


5 Juni 1996, Seperti sudah direncanakan, panitya kongres yang baru berumur
satu hari langsung menemui Dirjen Sosial Politik Depdagri, Sutoyo NK; dan
Direktur Pengamanan Politik Dirjen Sospol Depdagri, Suko Marto-no, di De
pdagri untuk meminta dukungan. Macam orang lebaran, rombongan melanjutkan
sowannya ke Kasospol ABRI Letjen. Syarwan Hamid di mabes ABRI Jl. Medan
Merdeka Barat, Jakarta.


6 Juni 1996, Fatimah Ahmad terbang ke Medan menemui Pangdam I Bukit
Barisan, Mayjen Sedaryanto, untuk membicarakan perihal tempat kongres
 dilaksanakan.


7 Juni 1996, Setelah mendapat kode dari Pangab ABRI Jenderal. Feisal
Tanjung, Pangdam I Bukit Barisan Mayjen. Sedaryanto menyatakan siap
mengamankan jalannya kongres .


11 Juni 1996, Kapuspen ABRI Letjen. Syarwan Hamid memanggil pemimpin
redaksi media massa nasional di Mabes ABRI Jl. Medan Merdeka Barat.
Kapuspen meminta agar media massa mendukung ide kongres. "Sikap ABRI sudah
jelas bahwa ABRI mendukung kongres," kata jenderal yang rajin berseminar
itu.

Sumber:
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1996/07/06/0064.html