Peristiwa Kerusuhan Massa Tasikmalaya (Klik foto untuk memperbesar)
| ||||||||||||||
Sumber:
http://www.oocities.org/tasikmal/rusuh.htm
Peristiwa Kerusuhan Massa Tasikmalaya (Klik foto untuk memperbesar)
| ||||||||||||||
KRONOLOGIS PASCA TRAGEDI TASIKMALAYA DI GARUT
>
>
>Penganiayaan yang dilakukan oleh empat oknum aparat kepolisian POLRES
>TASIKMALAYA terhadap 2 orang santri dan seorang ustadz Pondok Pesantren
>Riyadhul Ulum Wadda'wah desa Condong kecamatan Cibereum Tasikmalaya,
>merupakan penyebab meletusnya kerusuhan Tasikmalaya yang membuat geger
>nasional, Kamis, 26 Desember 1996. Kerusuhan Tasikmalaya pada akhirnya
>timbul berbagai persoalan; Tuduhan bahwa adanya "dalang" yang menyebabkan
>kerusuhan tersebut terjadi.
>
>Kabupaten Garut, salah satu kota yang terdekat dengan Tasikmalaya; kurang
>lebih 50 KM tidak terlepas dari bias tersebut. Adanya FPPMG; sebuah
>perkumpulan pemuda, mahasiswa, pelajar yang selama ini concern terhadap
>pembelaan kasus-kasus rakyat di Garut; terus dikait-kaitkan dengan peris
>tiwa tersebut. Dibawah ini beberapa peristiwa yang terjadi pasca kerusuhan
>Tasikmalaya di Kabupaten Garut.
>
>Jum'at, 27 Desember 1996.
>FPPMG mengeluarkan pernyataan sikap tentang kerusuhan Tasikmalaya;
>menyesalkan tindakan kekerasan, hal tersebut tidak terlepas dari persoalan
>kesenjangan ekonomi, meningkatnya pengangguran, tidak kondusifnya
>komunikasi pemerintah dan masyarakat dan gagalnya proses pendidikan politik
>yang dilakukan pemerintah selama ini. menghimbau; menjadikan peristiwa
>Tasikmalaya sebagai bahan refleksi dan evaluasi bagi semua pihak tanpa
>harus mencari-cari "kambing hitam" kerusuhan tersebut.
>>Minggu, 29 Desember, pukul 18.00 WIB
>FPPMG yang sedang melakukan Bakti Sosial di Cimerak-Pameungpeuk Kabupaten
>Garut, didatangi aparat keamanan "intel Polres Garut" menanyakan "dalang
>kerusuhan Tasikmalaya".
>
>Senin, 30 Desember 1996, pukul 11.00 WIB
>Peserta Bakti Sosial FPPMG didatangi aparat Tripika, Wedana dan Sekwilmat
>beserta jajarannya; lebih dari40 orang dan membawa Polingga-Rombongan
>tukang Ojek mempersoalkan perizinan serta hal lain yang dikhawatirkan,
>karena pelaksanaanya dilakukan oleh FPPMG/Agustiana CS. Sempat dari pihak
>TRIPIKA melakukan tekanan-tekanan untuk gagalnya acara Bakti Sosial dengan
>mengungkit aktifitas FPPMG.
>
>Selasa, 31 Desember 1996, pukul 10.00 WIB
>Ketika peserta mengunjungi beberapa kelompok masyarakat; masyarakat
>dampingan FPPMG untuk melakukan kerja bakti pembersihan jalan dan sarana
>peribadatan; kampung Ciniti dan Leuwipari. Di Ciniti; Babinsa, Polsek
>setempat mengikuti setiap gerak langkah peserta dan di Leuwipari, aparat
>Polres Garut menanyakan dimana "dalang kerusuhan Tasikmalaya"
>disembunyikan.
>
>Pukul 19.00 - 24.00 WIB
>Ketika peserta sedang mengadakan hiburan bersama masyarakat. Di sekitar
>lokasi hiburan; pinggir pantai Cimerak, peserta bakti sosial dikepung baik
>aparat maupun preman dan hal itupun terjadi ketika peserta bakti sosial
>pulang ke Garut.
>
>Rabu, 1 Januari 1997, pukul 10.30 WIB
>Sekretariat PMII Cabang Garut dilempar oleh beberapa preman yang tidak
>dikenal.
>
>Kamis, 2 Januari 1997, Pukul 18.45
>Akung, peserta bakti sosial dan aktifis PMII Cabang Garut, dibawa oleh
>orang yang tidak dikenal dan dimintai keterangan yang berkaitan dengan
>"dalang kerusuhan Tasikmalaya"
>
>Jum'at, 3 januari 1997
>Komite Pemuda dan Mahsiswa Islam Anti Kekerasan yang terdiri dari; PMII
>cabang Garut, GMNI Cabang Garut, FKGMNU cabang Garut, Forum Santri garut,
>FOKKAMM Garut, FPPMG, MPKR, FD-LSM, FPG, FKRM dan Kelompok Seni Islam Garut
>mengeluarkan surat yang ditujukan kepada Danrem 062 TN, Muspida Garut; yang
>intinya menyikapi bentuk-bentuk anarkhisme bias Tasikmalaya di Garut yang
>dilakukan oleh preman-preman; apabila terus dibiarkan bentuk-bentuk
>penggunaan alat-alat kekerasan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat
>maka radikalismemassa dapat terjadi di Kabupaten Garut.
>
>Senin, 6 Januari, pukul 15.00 WIB
>KPMIAK; 18 orang perwakilan, mendatangi Polres Garut untuk menyampaikan
>tuntutan sebagaimana yang tertulis dalam pernyataan sikap KPMIAK tertanggal
>3 Januari 1997.
>
>Rabu, 8 Januari 1997, pukul 12.30 WIB
>Agustiana, aktifis FPPMG, didatangi oleh aparat keamanan yang mengaku dari
>"Sumatera 37" untuk meminta keterangan. Dan bersamaan dengan itu, datang
>surat dari Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, Nomor surat : Pgl 1789/P2.16/Dp
>3/I/97, perihal permintaan Keterangan.
>
>Sabtu, 11 Januari 1997, pukul 22.00 WIb
>mahmud Yunus dan Iman Taufik, aktifis FPPMG dibawa oleh Kejaksaan negeri
>Garut dari sekretariat FPPMG dan Muhendi dari rumah kontrakannya; untuk
>dimintai keterangan berkaitan dengan Kasus Tasikmalaya dan Agustina. Pulang
>pukul 04.30 WIB.
Sumber:
http://www.fica.org/persecution/26dec96/article/chrono_c.html
Kami memberikan penyuluhan-penyuluhan ke pesantren, ulama, dan masyarakat setempat.
Semuanya masih dalam penyelidikan. Untuk mengatasi isu yang berkembang, kami mengusahakan dialog dalam sebuah forum agar semua pihak mengemukakan pendapatnya.
Ya, seperti pertemuan sekarang ini yang dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan aparat pemerintah.
Bila dilihat dari sasaran kerusuhan jelas itu bukan spontanitas. Masa' spontanitas sasarannya dipilih-pilih. Masyarakat Tasikmalaya itu sangat agamis, dari penyelidikan tidak ada keterlibatan santri dalam kerusuhan itu.
Bukan pihak ketiga, tapi pihak tertentu yang ingin memecah belah persatuan dengan menggunakan isu Islam. Mereka berharap yang timbul nanti adalah arogansi muslim yang mayoritas. Dan tentu pihak tertentu itu sudah paham, baik secara psikologis maupun politis dari kerusuhan itu akan ada perlawanan balik dari minoritas (keturunan Cina dan non Islam, Red). Tapi, kenyataannya kita tidak melihat hal itu dari warga minoritas.
Saya baru melihatnya dalam rekaman video. Dokumen-dokumen pihak tertentu itu belum dikaji oleh staf.
Kami punya rekaman video saat kerusuhan dan selebaran-selebaran yang berkaitan dengan kerusuhan tersebut.
Ini masih dalam penyelidikan kami. Secara kumulatif dan eksplisit, akibat kerusuhan itu belum dapat kami simpulkan.
Kesenjangan beragama tidak pernah terjadi di Tasikmalaya.
Saya tidak mengistilahkan demikian. Kerusuhan itu masih dalam penyelidikan staf Kodam dan kepolisian.
Setahu saya, yang ditahan di kepolisian sebanyak 89 orang.
Tanyakan saja pada mereka. Namun dari tersangka yang ditahan terdapat beberapa orang residivis.
Masyarakat Tasikmalaya sangat agamis. Dari hasil monitoring dan penyelidikan tidak terdapat keterlibatan santri dalam kerusuhan itu. Pelaku kerusuhan bertindak sangat tidak Islami dan itu bukan cermin tindakan santri.
Setahu saya ada orang dari Garut yang ditahan dari 89 orang tersangka.
Tidak ada.
Pelaku kerusuhan bertindak sangat tidak Islami, bagaimana bisa disebut santri.